MOJOKERTO –Selasa,11/8/2026,Toleransi tidak selalu hadir dalam bentuk kata-kata. Di tengah kehidupan masyarakat yang beragam, sikap saling menghormati justru dapat terlihat dari tindakan nyata.
Kisah tersebut tercermin dari sosok John Lobo, guru Pendidikan Agama Katolik di SMA Negeri 2 Kota Mojokerto. Di lingkungan tempat tinggalnya, John menjadi bagian dari masyarakat yang mayoritas beragama Islam. Namun, kondisi itu tidak pernah menghalanginya untuk berbaur dan mengambil bagian dalam berbagai kegiatan sosial.
Sejak 2018, John dipercaya warga menjadi Ketua RT 07 RW 13 Desa Japan. Saat itu, terdapat sekitar 78 kepala keluarga di wilayah tersebut, sementara keluarga John menjadi satu-satunya keluarga Katolik.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Meski berada dalam lingkungan dengan latar belakang keyakinan yang berbeda, John tetap aktif mengikuti kegiatan warga. Gotong royong, kegiatan sosial hingga berbagai urusan kemasyarakatan dijalaninya bersama warga tanpa menjadikan perbedaan agama sebagai sekat.
Kebersamaan itu kemudian mendapat ujian sekaligus menjadi pengalaman berharga ketika pada 2021 John dipercaya masuk dalam kepanitiaan pembangunan Masjid Sirojul Muttaqin di lingkungan RW 13.
John mendapat tanggung jawab di bagian hubungan masyarakat. Perannya adalah membangun komunikasi dengan warga sekaligus membantu menggalang dukungan agar pembangunan masjid dapat berjalan.
Bagi John, amanah tersebut awalnya bukan perkara sederhana. Ia sempat merasa ragu karena dirinya merupakan seorang Katolik yang dipercaya membantu pembangunan rumah ibadah umat Islam.
Namun, keraguan tersebut tidak membuatnya mundur. John memilih menjalankan tugas yang diberikan warga dengan ketulusan.
Baginya, membantu sesama tidak semestinya dibatasi oleh perbedaan keyakinan. Selama yang dilakukan bertujuan untuk kepentingan bersama dan kemaslahatan masyarakat, setiap orang dapat mengambil peran sesuai kemampuannya.
Dukungan John bahkan tidak sebatas tenaga dan komunikasi. Ia turut memberikan bantuan secara pribadi untuk pembangunan masjid tersebut. Dalam prosesnya, ia juga disebut rela menjual salah satu rumah miliknya demi membantu agar pembangunan Masjid Sirojul Muttaqin dapat terwujud.
Pembangunan masjid dilakukan secara gotong royong. Warga RT 05 menjadi bagian dari proses tersebut, sementara dukungan juga datang dari warga sejumlah RT lainnya, termasuk kelompok dasa wisma.
Keluarga John pun tidak tinggal diam. Sang istri ikut berkontribusi dengan membantu menyiapkan konsumsi bagi warga yang terlibat dalam kegiatan pembangunan.
Masjid yang kemudian diberi nama Sirojul Muttaqin tersebut memiliki makna sebagai jalan atau jembatan menuju ketakwaan. Lebih dari sekadar bangunan fisik, proses pembangunannya memperlihatkan bagaimana semangat kebersamaan dapat tumbuh di tengah masyarakat yang memiliki latar belakang berbeda.
Kisah John Lobo menunjukkan bahwa toleransi bukan sekadar kemampuan menerima perbedaan, tetapi juga kesediaan untuk hadir ketika orang lain membutuhkan.
Ia tidak ikut membangun masjid karena persoalan keyakinan, melainkan karena kepedulian sebagai bagian dari masyarakat. Sikap tersebut menjadi gambaran bahwa kehidupan yang harmonis dapat dibangun ketika setiap orang mampu menghargai perbedaan dan mengedepankan kepentingan bersama.
Di tengah berbagai perbedaan yang ada di masyarakat, pengalaman John bersama warga Desa Japan menjadi pengingat bahwa gotong royong masih memiliki kekuatan untuk mempererat hubungan antarsesama.
Perbedaan keyakinan tidak harus menciptakan jarak. Sebaliknya, dengan saling menghormati, membantu dan bekerja bersama, perbedaan justru dapat menjadi ruang untuk memperkuat persaudaraan dan kehidupan bermasyarakat yang rukun.
Penulis : Anjasman
Editor : SN palu
Sumber Berita: Media viral
















