PALU, SUARA NUSANTARA PALU— Keberanian seorang alumni Universitas Tadulako (Untad) untuk menyampaikan langsung kondisi usaha pertanian yang tengah dirintis kepada Menteri Pertanian (Mentan) Andi Amran Sulaiman berbuah dukungan alat dan mesin pertanian (alsintan) senilai sekitar Rp1 miliar.
Momen tersebut terjadi dalam rangkaian Dies Natalis ke-45 dan Wisuda Untad periode ke-138 di Kota Palu, Kamis.
Dalam dialog bersama Mentan, alumni tersebut mengungkapkan perjuangannya bersama sekitar 15 orang dalam membangun Brigade Pangan di wilayah Napu. Keterbatasan modal membuat kelompok itu masih harus menyewa lahan sekaligus menggunakan traktor sewaan untuk menjalankan aktivitas pertanian.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Bahkan, ia mengaku sempat memiliki niat untuk menggadaikan sepeda motor agar dapat berangkat ke Jakarta dan menemui langsung Menteri Pertanian.
“Yang penting ketemu Bapak Pertanian,” ungkapnya saat menyampaikan kondisi yang dihadapi kelompoknya.
Mendengar perjuangan tersebut, Andi Amran Sulaiman memberikan respons positif. Ia menyatakan dukungan berupa satu unit combine harvester yang diperkirakan bernilai sekitar Rp600 juta serta satu unit traktor roda empat dengan nilai sekitar Rp400 juta.
Dengan demikian, total nilai bantuan alsintan yang dijanjikan mencapai kurang lebih Rp1 miliar.
Meski demikian, Amran menegaskan bahwa bantuan tersebut tidak serta-merta diberikan tanpa verifikasi. Ia meminta jajarannya terlebih dahulu memastikan keberadaan kelompok, lahan yang dikelola, serta aktivitas pertanian yang benar-benar dijalankan.
“Combine jangan diserahkan kalau tidak lihat timnya, lihat kerjanya,” tegas Amran.
Selain dukungan alat, Amran juga meminta agar kelompok tersebut memperoleh pendampingan sehingga bantuan yang diberikan benar-benar dapat dimanfaatkan untuk meningkatkan produktivitas pertanian.
Menurutnya, keberadaan kelompok anak muda yang mau terjun langsung ke sektor pertanian merupakan hal positif yang perlu didorong. Generasi muda, khususnya alumni perguruan tinggi, diharapkan tidak hanya berorientasi menjadi pencari kerja, tetapi mampu membangun usaha sekaligus membuka lapangan pekerjaan bagi masyarakat.
Kisah alumni Untad tersebut menjadi gambaran bahwa keterbatasan sarana tidak semestinya menghentikan semangat untuk mengembangkan sektor pertanian. Perjuangan kelompok yang merintis Brigade Pangan di Napu kini mendapat perhatian dan dukungan pemerintah.
Selanjutnya, bantuan alsintan tersebut diharapkan dapat dimanfaatkan secara optimal untuk memperluas kegiatan produksi, meningkatkan efisiensi pengelolaan lahan, serta memberikan dampak ekonomi bagi kelompok dan masyarakat sekitar.
Bagi kelompok tersebut, dukungan itu bukan sekadar bantuan peralatan, tetapi juga menjadi tantangan untuk membuktikan bahwa usaha pertanian yang mereka bangun mampu berkembang dan memberikan manfaat nyata.
Penulis : Anjasman/Redaksi
Editor : SN PALU
Sumber Berita: Sisi Sulteng
















