PALU, SUARA NUSANTARA PALU— Pelopor Pemuda Tadulako Sulawesi Tengah menyatakan dukungan terhadap gagasan Gubernur Sulawesi Tengah, Anwar Hafid, yang mendorong perubahan orientasi pembangunan pertanian dari sekadar mengejar jumlah produksi menuju peningkatan nilai ekonomi yang diterima petani.
Dukungan tersebut disampaikan Wakil Ketua Umum Pelopor Pemuda Tadulako Sulawesi Tengah, Syarif Albi, menyikapi pernyataan Gubernur saat menghadiri Panen Raya Padi Organik Al-Khairaat di Desa Walatana, Kecamatan Dolo Selatan, Kabupaten Sigi, pada 18 Agustus 2026.
Menurut Syarif, perubahan cara pandang tersebut penting karena keberhasilan sektor pertanian tidak semestinya hanya dilihat dari besarnya tonase hasil panen. Hal yang tidak kalah penting adalah bagaimana hasil produksi tersebut mampu meningkatkan pendapatan dan kesejahteraan petani.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
“Kami mendukung gagasan bahwa keberhasilan pertanian jangan hanya dihitung dari tonase. Petani harus mendapatkan nilai ekonomi yang lebih baik dari hasil kerja mereka,” ujar Syarif Albi.
Ia menilai Sulawesi Tengah memiliki potensi pertanian yang besar dengan berbagai komoditas unggulan di sejumlah kabupaten. Namun, menurutnya, sebagian potensi tersebut masih menghadapi tantangan berupa ketergantungan terhadap penjualan komoditas dalam bentuk bahan mentah.
Karena itu, Syarif mendorong agar kebijakan pertanian ke depan tidak berhenti pada peningkatan produksi, tetapi dilanjutkan dengan penguatan pengolahan hasil dan pemasaran.
“Petani harus didorong naik kelas. Jangan hanya menjadi produsen bahan mentah, tetapi secara bertahap bisa terlibat dalam proses pengolahan, pengemasan dan pemasaran produk,” katanya.
Dorong Sistem Pertanian dari Hulu hingga Hilir
Syarif mengatakan, transformasi pertanian membutuhkan ekosistem yang berjalan secara menyeluruh. Mulai dari ketersediaan benih berkualitas, teknologi budidaya, irigasi, pendampingan petani, akses pembiayaan hingga kepastian pasar.
Ia menyebut kawasan pertanian di Kabupaten Sigi dapat menjadi salah satu lokasi yang dikembangkan sebagai percontohan penerapan pertanian modern. Namun, pengembangan tersebut harus dilakukan secara terencana dan tidak hanya berhenti pada kegiatan seremonial.
“Panen raya harus menjadi momentum untuk melihat apa yang masih kurang. Setelah itu harus ada tindak lanjut, baik dari sisi riset, teknologi, pengolahan hasil maupun pemasaran,” jelasnya.
Menurut Syarif, apabila model pengembangan pertanian tersebut berhasil diterapkan di satu kawasan, konsepnya dapat dikembangkan ke wilayah lain yang memiliki potensi komoditas unggulan.
Pemuda Diminta Terlibat
Selain persoalan produksi dan pasar, Syarif menilai regenerasi petani juga menjadi tantangan yang perlu mendapat perhatian serius.
Ia mendorong pemerintah membuka ruang yang lebih besar bagi generasi muda untuk masuk ke sektor agribisnis melalui pelatihan, akses permodalan, teknologi digital dan pendampingan usaha.
“Pemuda jangan hanya melihat pertanian sebagai pekerjaan tradisional. Dengan teknologi dan manajemen yang baik, pertanian bisa menjadi sektor usaha yang menjanjikan,” ujarnya.
Ia berharap lahir lebih banyak anak muda Sulteng yang tidak hanya bekerja di sektor pertanian, tetapi mampu membangun usaha agribisnis dari produksi hingga pemasaran.
Kepastian Harga Dinilai Penting
Syarif juga menekankan pentingnya pemerintah memperhatikan persoalan harga dan pasar. Menurutnya, peningkatan produksi akan sulit memberikan dampak maksimal kepada petani apabila tidak disertai kepastian penyerapan hasil.
Karena itu, ia mendorong adanya penguatan kemitraan antara petani dengan dunia usaha, lembaga pemasaran, industri pengolahan maupun sektor ritel.
“Produksi meningkat tentu baik, tetapi jangan sampai ketika panen harga justru jatuh. Petani membutuhkan kepastian pasar agar usaha pertanian memiliki perhitungan ekonomi yang jelas,” katanya.
Kaitkan dengan Perjuangan DBH
Dalam pandangannya, pembangunan pertanian juga tidak terlepas dari kebutuhan pembiayaan daerah. Syarif berharap perjuangan Sulawesi Tengah dalam memperoleh pembagian Dana Bagi Hasil (DBH) yang lebih berkeadilan dapat memberikan ruang fiskal yang lebih besar untuk memperkuat sektor produktif.
Ia menilai, apabila kemampuan fiskal daerah meningkat, sektor pertanian dapat menjadi salah satu prioritas melalui pembangunan dan perbaikan irigasi, jalan usaha tani, dukungan teknologi serta peningkatan kapasitas petani.
“Perjuangan DBH harus bermuara pada manfaat nyata bagi masyarakat. Salah satunya melalui penguatan sektor pertanian di daerah-daerah penghasil,” tutur Syarif.
Syarif menegaskan, dukungan Pelopor Pemuda Tadulako terhadap gagasan Gubernur Anwar Hafid sekaligus menjadi dorongan agar kebijakan tersebut dapat diterjemahkan ke dalam program yang konkret, terukur dan berkelanjutan.
“Gagasan tentang pertanian berbasis nilai ekonomi harus dikawal bersama. Ukuran keberhasilannya bukan hanya berapa banyak yang dipanen, tetapi seberapa besar manfaat ekonomi yang akhirnya diterima petani,” tegasnya.
Pelopor Pemuda Tadulako, lanjut Syarif, siap mendorong keterlibatan generasi muda dalam pengembangan pertanian di Sulawesi Tengah agar sektor tersebut semakin produktif, adaptif terhadap teknologi dan mampu memberikan nilai tambah bagi masyarakat.
Penulis : Anjasman/Redaksi
Editor : SN PALU
Sumber Berita: Liputan
















