PALU – SUARA NUSANTARA PALU.COM – Semangat melestarikan bahasa daerah yang ditampilkan Andi Attaya Putri Lamangkona, siswi SDN Inpres Silae, Kota Palu, melalui penampilan dalam Festival Tunas Bahasa Ibu (FTBI) tingkat Provinsi Sulawesi Tengah tahun 2026.
Dalam kegiatan yang berlangsung di Asrama Haji Palu pada tanggal 22–23 Oktober 2026 itu, siswi yang akrab disapa Attaya tersebut membawakan dongeng berbahasa Kaili Ledo berjudul “Tupu Langgaiku”, yang berarti “Kakekku”.
Melalui cerita tersebut, Attaya mengajak penonton mengenal kembali kisah perjuangan seorang Kakek Tadulako yang digambarkan memiliki keberanian, keteguhan hati, serta semangat pantang menyerah dalam mempertahankan kedaulatan di tanah Tadulako.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Foto: Dari kiri Dian Maharani (siswi SMPN 2 PALU), Nurul Azzahra (siswi SDN Inpres silae), Rossidah,S.pd.,M.P (pendamping dinas kebudayaan kota palu),Dr.Syarifuddin,M.Hum.(kepala balai bahasa provinsi Sulawesi Tengah), Andi Attaya putri Lamangkona (siswi SDN Inpres silae),Inaya Adzkia Atifa(siswi SMPN 6 Palu)
Penampilan Attaya menjadi salah satu bentuk nyata bagaimana cerita rakyat dapat menjadi sarana untuk mengenalkan sejarah, nilai perjuangan, dan identitas budaya kepada generasi muda.
Di atas panggung, ia berusaha menghidupkan alur cerita melalui ekspresi, penghayatan karakter, serta penggunaan bahasa Kaili Ledo. Keberaniannya tampil di hadapan penonton dalam sebuah festival tingkat provinsi menjadi pengalaman berharga sekaligus bagian dari menumbuhkan proses kecintaan terhadap bahasa ibu.
Kepala SDN Inpres Silae, Dadang Rahman Sidiq, yang juga berperan sebagai pelatih dan pembimbing Attaya, mengungkapkan kebanggaannya atas usaha dan kesungguhan siswinya dalam mempersiapkan penampilan tersebut.
Menurut Dadang, membawakan dongeng berbahasa daerah memerlukan latihan, keberanian, dan kemampuan memahami karakter yang diceritakan. Terlebih lagi, kisah yang diangkat Attaya mengandung nilai sejarah dan semangat perjuangan tokoh Tadulako.
Ia menilai keterlibatan anak-anak dalam kegiatan seperti FTBI merupakan langkah penting untuk menjaga agar bahasa daerah tetap dikenal, digunakan, dan diwariskan kepada generasi berikutnya.
Melalui cerita “Tupu Langgaiku”, Attaya tidak hanya berlatih tampil di panggung, tetapi juga belajar memahami pesan moral yang terkandung dalam tradisi lisan masyarakat Kaili.
Rasa bangga juga disampaikan ibunda Attaya, Ratnawati, yang memberikan dukungan selama putrinya mengikuti kegiatan tersebut.
Ratnawati mengaku terharu melihat keberaniannya tampil membawakan dongeng dalam bahasa daerah. Ia juga menyampaikan penghargaan kepada Dadang Rahman Sidiq yang telah membimbing dan membantu mengembangkan kemampuan Attaya.
Bagi keluarga, pengalaman mengikuti FTBI menjadi kesempatan bagi Attaya untuk semakin mengenal kekayaan budaya daerah sekaligus menumbuhkan rasa percaya diri.
Ratnawati berharap dukungan yang diberikan keluarga dan sekolah dapat mendorong putrinya terus belajar, mengembangkan bakat, serta mencintai bahasa dan tradisi leluhur.
Sementara itu, Attaya mengaku senang mendapat kesempatan membawakan cerita rakyat Kaili Ledo di hadapan penonton di tingkat provinsi tersebut.
Ia berusaha membayangkan perjuangan tokoh yang dikisahkan agar dapat menyampaikan cerita dengan penuh penghayatan. Baginya, membawakan dongeng bukan sekadar mengucapkan kata-kata, melainkan juga menyampaikan kisah dan pesan yang terkandung di dalamnya.
Attaya berharap semakin banyak anak seusianya yang tertarik mendengarkan dan mempelajari cerita rakyat daerah sendiri.
Pengalaman tersebut menjadi kenangan bahwa pelestarian bahasa ibu dapat dimulai dari lingkungan keluarga dan sekolah, kemudian diperkuat melalui ruang-ruang kebudayaan seperti Festival Tunas Bahasa Ibu.
Keikutsertaan Andi Attaya Putri Lamangkona dalam FTBI Sulawesi Tengah 2026 pun menjadi bagian dari upaya memperkenalkan kekayaan sastra lisan Kaili Ledo kepada generasi muda.
Di tengah perkembangan zaman, bahasa daerah dan cerita rakyat tetap memiliki tempat penting sebagai warisan budaya yang menyimpan nilai sejarah, kearifan lokal, dan jati diri masyarakat.
Melalui keberanian anak-anak seperti Attaya untuk bertutur dalam bahasa leluhur, harapan agar bahasa Kaili Ledo terus hidup dan diwariskan kepada generasi mendatang dapat terus tumbuh.
Penulis : Pimred Anjasman
Editor : SN-PALU
Sumber Berita: Liputan
















