KUPANG, RABU 12/8/2026,SUARA NUSANTARA PALU.COM— Dedikasi seorang anggota Kepolisian Negara Republik Indonesia (Polri) terhadap anak-anak kurang mampu di Kota Kupang, Nusa Tenggara Timur (NTT), menjadi kisah inspiratif. Ia adalah Ipda Yunus Labba, perwira yang memilih mengabdikan sebagian besar penghasilannya untuk membantu anak yatim piatu, telantar, dan berasal dari keluarga kurang mampu.
Ipda Yunus yang kini menjabat sebagai Kapolsek Amarasi Timur dikenal tidak hanya menjalankan tugas kepolisian, tetapi juga aktif membina anak-anak yang membutuhkan perhatian dan dukungan pendidikan.
Perjalanan sosial tersebut telah dimulainya sejak 2007. Saat itu, Yunus membawa tujuh anak telantar untuk tinggal dan dirawat di kediamannya di Kota Kupang.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Seiring berjalannya waktu, jumlah anak yang dibinanya terus bertambah. Pada 2014, tercatat sebanyak 22 anak berada dalam pengasuhannya. Kondisi tersebut membuat rumah pribadinya tidak lagi mampu menampung seluruh anak yang membutuhkan tempat tinggal dan pembinaan.
Pada 2017, Yunus kemudian mendirikan Panti Asuhan Gerson di Kelurahan Belo, Kota Kupang. Tempat tersebut menjadi wadah bagi anak-anak yatim piatu, telantar, maupun mereka yang berasal dari keluarga dengan keterbatasan ekonomi.

Jumlah anak yang mendapatkan perhatian dan pembinaan Yunus pun terus berkembang. Lebih dari 119 anak disebut telah menjadi bagian dari anak asuh yang ia bina. Sebagian di antaranya bahkan berhasil melanjutkan pendidikan hingga perguruan tinggi.
Di balik perjuangan tersebut, terdapat pengorbanan finansial yang tidak sedikit. Yunus bersama istrinya harus mencari berbagai cara agar kebutuhan sehari-hari, pendidikan, serta keperluan anak-anak asuh tetap terpenuhi.
Dalam sejumlah pemberitaan, disebutkan bahwa Yunus bahkan pernah menggadaikan Surat Keputusan (SK) pengangkatannya sebagai anggota Polri kepada pihak bank untuk memperoleh pinjaman. Dana tersebut digunakan untuk mendukung kebutuhan panti sekaligus mengembangkan usaha sampingan yang menjadi sumber tambahan pembiayaan.
Penghasilan sebagai anggota kepolisian dan hasil dari usaha yang dijalankannya juga banyak dialokasikan untuk memenuhi kebutuhan anak-anak, mulai dari makanan, pakaian hingga biaya pendidikan.
Pengabdian tersebut kemudian mendapat perhatian dari berbagai pihak, termasuk institusi Polri dan Pemerintah Provinsi NTT. Dedikasi Yunus terhadap anak-anak kurang mampu dinilai sebagai bentuk kepedulian sosial yang dilakukan di luar tanggung jawabnya sebagai anggota kepolisian.
Atas perjalanan pengabdiannya, Yunus memperoleh apresiasi dan kesempatan mengikuti pendidikan perwira. Kariernya kemudian berkembang dari pangkat Aipda hingga menyandang pangkat Inspektur Polisi Dua (Ipda).
Kisah Ipda Yunus Labba menjadi gambaran bahwa tugas seorang polisi tidak hanya berkaitan dengan penegakan hukum dan menjaga keamanan, tetapi juga dapat diwujudkan melalui kepedulian terhadap masyarakat, khususnya anak-anak yang membutuhkan kesempatan untuk memperoleh kehidupan dan pendidikan yang lebih baik.
Penulis : Tim redaksi
Editor : SN palu
Sumber Berita: Liputan
















