SIGI, Rabu 26/8/2026, SUARA NUSANTARA PALU— Kisah pilu datang dari sebuah keluarga di Desa Rarampadende, Kecamatan Dolo Barat, Kabupaten Sigi, Sulawesi Tengah. Di tengah keterbatasan ekonomi, satu keluarga kini harus menghadapi cobaan berat setelah anak dan ibunya sama-sama mengalami kondisi yang membutuhkan perhatian dan bantuan.
Adalah Eza Ramadhan (18), seorang anak yang pernah menjadi anggota Paskibra Kecamatan Dolo Barat. Sejak mengalami kecelakaan lalu lintas, Eza harus menjalani hari-harinya dengan kondisi patah tulang yang hingga kini belum sepenuhnya pulih.
Kecelakaan tersebut terjadi di Jalan Kijang pada Minggu sore, sekitar pukul 16.00 WITA, 1 Februari 2026. Eza menjadi korban setelah ditabrak sebuah mobil. Kondisi tersebut membuatnya harus menjalani masa pemulihan selama kurang lebih tujuh bulan.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Namun, cobaan keluarga ini semakin berat. Sang ibu, Parlia (60), yang selama ini menjadi tulang punggung keluarga dengan berjualan nasi kuning pada malam hari, kini justru terbaring lemah karena sakit sejak Sabtu, 22 Agustus 2026.
Sementara sang ayah, Asrudin (69), sudah tidak lagi memiliki kemampuan fisik untuk bekerja dan mencari nafkah seperti sebelumnya. Meski demikian, kondisi tersebut tidak membuatnya menyerah. Dengan keterbatasan tenaga, Asrudin tetap berusaha mengurus istri dan anaknya di rumah.
Saat ditemui awak media, Eza tidak mampu menahan tangis. Ia mengungkapkan kekhawatirannya karena selama ini sang ibu yang banyak membantu merawat dirinya.
“Mama yang urus saya sakit. Papa sudah tua. Kenapa Mama sakit lagi, ya Allah. Siapa lagi yang urus saya kalau Mama sakit? Tidak mungkin Papa, sudah tidak mampu bekerja,” ujar Eza sambil menangis.
Kondisi sang ibu juga menjadi perhatian. Ketika ditanya awak media mengapa tidak mendapatkan pengobatan, Parlia hanya terdiam dan menangis. Keterbatasan kondisi keluarga membuat upaya mendapatkan perawatan menjadi persoalan tersendiri.
Asrudin pun mengaku sebenarnya dirinya sudah tidak kuat untuk melakukan berbagai pekerjaan rumah tangga. Namun, keadaan memaksanya untuk tetap berusaha memasak, mencuci pakaian, dan membersihkan rumah demi merawat istri serta anaknya.
“Sebenarnya saya sudah tidak mampu untuk melakukan semuanya. Tapi kalau saya tidak melakukan, siapa lagi yang mengurus anak dan istri saya?” tutur Asrudin dengan mata berkaca-kaca.
Di tengah kondisi tersebut, keluarga ini berharap adanya perhatian dan uluran tangan dari pemerintah, lembaga sosial, organisasi kemanusiaan, maupun para donatur yang memiliki kepedulian terhadap masyarakat yang sedang mengalami kesulitan.
Bantuan yang diberikan, baik berupa biaya pengobatan, kebutuhan sehari-hari, maupun dukungan lainnya, diharapkan dapat meringankan beban keluarga tersebut.
Kisah keluarga Eza menjadi gambaran bahwa di tengah masyarakat masih terdapat keluarga yang membutuhkan perhatian dan kepedulian bersama. Pemerintah dan pihak-pihak terkait diharapkan dapat melihat kondisi keluarga ini secara langsung sehingga bantuan yang tepat dapat segera diberikan.
Penulis : Anjasman/Redaksi
Editor : SN-PALU
Sumber Berita: Liputan
















