Kesederhanaan, keterbukaan, dan kedekatan dengan masyarakat menjadi benang merah yang disampaikan sejumlah tokoh saat berbicara tentang sosok Bupati Tojo Una-Una, Ilham S. Lawidu.
Oleh: Budi Dako
(Feature Profil)
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
TOUNA-Suara Nusantara Palu,Tidak sedikit orang yang berubah ketika kepercayaan dan jabatan datang.
Namun, bagi mantan Kepala Desa Muara Bandeng, Kecamatan Una-Una, Sukri Dg. Situju, hal itu tidak berlaku bagi Ilham S. Lawidu.
Sukri mengaku mengenal Ilham jauh sebelum menjabat sebagai Bupati Tojo Una-Una.
Menurutnya, pribadi yang sederhana, mudah bergaul, dan menghargai siapa saja tetap menjadi karakter yang melekat pada diri Ilham hingga saat ini.
“Sejak dulu saya mengenal Pak Ilham sebagai sosok yang sederhana dan dekat dengan masyarakat.
Beliau mudah bergaul, tidak pernah membeda-bedakan orang, dan selalu menghargai siapa saja.
Sampai sekarang, setelah menjadi Bupati Tojo Una-Una, sifat itu tetap beliau pertahankan,”ujar Sukri.
Bagi Sukri, kedekatan Ilham dengan masyarakat bukanlah sesuatu yang dibentuk oleh jabatan.
Sikap terbuka, kebiasaan mendengar, dan kemauannya menjaga silaturahmi telah menjadi bagian dari kepribadiannya sejak lama.
Pandangan serupa disampaikan tokoh masyarakat H. Jamal Djuraedjo dan Abdan Lasawedi.
Keduanya menilai Ilham tetap rendah hati dan tidak pernah membangun sekat dalam berkomunikasi dengan masyarakat.
Abdan Lasawedi mengatakan, Ilham merupakan sosok yang mampu membangun komunikasi dengan siapa saja tanpa melihat latar belakang maupun status sosial.
“Pak Ilham orangnya sederhana.
Beliau tidak pernah membangun sekat saat berbicara dengan siapa pun.
Maupun masyarakat biasa, tokoh agama, tokoh adat, pemuda, wartawan, maupun pejabat, semuanya beliau perlakukan dengan baik dan penuh peng hormatan,”kata Abdan.
Lahir pada 8 Mei 1977, Ilham S. Lawidu mengawali pengabdiannya melalui dunia politik bersama Partai Golongan Karya (Golkar).
Alumni Universitas Muhammadiyah Palu itu terlebih dahulu dipercaya menjadi anggota DPRD Kabupaten Tojo Una-Una selama sekitar satu setengah periode sebelum menjabat Wakil Bupati Tojo Una-Una periode 2021–2025 mendampingi Mohammad Lahay.
Kepercayaan masyarakat kemudian mengantarkannya menjadi Bupati Tojo Una-Una periode 2025–2030 bersama Wakil Bupati Surya Lapasiri.
Keduanya dilantik oleh Presiden Prabowo Subianto di Istana Negara, Jakarta, pada 20 Februari 2025.
Dalam menjalankan amanah sebagai kepala daerah, Ilham dikenal membuka ruang komunikasi dengan berbagai elemen masyarakat.
Sejumlah tokoh yang mengenalnya menilai pendekatan yang menge depankan kebersamaan,nilai-nilai kemanusiaan, dan semangat melayani menjadi bagian dari gaya kepemimpinannya.
Karakter tersebut juga tercermin dalam kesehariannya.
Di sela agenda pemerintahan, Ilham sesekali meluangkan waktu menikmati secangkir kopi dan seporsi nasi kuning bersama para wartawan di warung sederhana.
Tanpa protokoler yang berlebihan, suasana itu menjadi ruang berdiskusi mengenai berbagai persoalan daerah, mendengar kritik, menerima masukan, dan bertukar gagasan.
Bagi para wartawan yang kerap berinteraksi dengannya, kebiasaan itu menjadi gambaran bahwa komunikasi tidak selalu dibangun melalui forum resmi.
Dari meja-meja sederhana, dialog berlangsung lebih terbuka dan hangat.
Di luar aktivitas pemerintahan, Ilham juga dikenal gemar bermain sepak bola.
Hobi tersebut menjadi salah satu cara menjaga kebugaran sekaligus mempererat hubungan dengan masyarakat.
Penilaian senada disampaikan Ketua Komisi II DPRD Provinsi Sulawesi Tengah, Yus Mangun.
Menurutnya, di balik sikap sederhana yang dikenal masyarakat, Ilham merupakan sosok yang memiliki etos kerja tinggi dalam memperjuangkan kepentingan daerah.
Yus menilai Ilham terus berupaya mengawal berbagai program pembangunan di Kabupaten Tojo Una-Una, termasuk memperjuangkan alokasi anggaran bagi Pegawai Pemerintah dengan Perjanjian Kerja (PPPK) sebagai bagian dari upaya meningkatkan pelayanan kepada masyarakat.
Bagi Sukri Dg. Situju, H. Jamal Djuraedjo, Abdan Lasawedi, dan Yus Mangun, kepemimpinan Ilham tidak hanya tercermin dari jabatan yang diembannya, tetapi juga dari sikap yang tetap terjaga: sederhana, terbuka, menghargai setiap orang, dan terus membangun komunikasi dengan masyarakat.
Pada akhirnya, seorang pemimpin tidak hanya dikenang melalui kebijakan yang dihasilkan, tetapi juga melalui cara ia memperlakukan orang lain.
Bagi mereka yang telah lama mengenal Ilham S. Lawidu, kedekatan dengan masyarakat bukanlah pencitraan yang lahir karena jabatan, melainkan karakter yang telah tumbuh jauh sebelum amanah sebagai Bupati Tojo Una-Una berada di pundaknya.(*)
Penulis : Budi Dako
Editor : Redaksi suara Nusantara palu com
Sumber Berita: Peliputan














