
SIGI, 26 Juni 2026 – Balai Penyuluhan Pertanian (BPP) Kecamatan Dolo Selatan, Kabupaten Sigi, menargetkan penanaman padi seluas 120 hektar di Desa Bangga pada musim tanam Oktober–November 2026. Program ini menjadi langkah strategis untuk menghidupkan kembali lahan pertanian yang selama bertahun-tahun tidak produktif akibat kerusakan pascabencana dan keterbatasan jaringan irigasi.
Kepala BPP Dolo Selatan, Selamad Darianto S.ST,mengatakan lahan yang akan ditanami tersebut berada di tiga kelompok tani, yakni Kelompok Tani Bumi Subur, Dadavi, dan Kayu Passe, dengan luas total sekitar 120 hektare.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Menurutnya, lahan tersebut sebelumnya tidak dapat dimanfaatkan secara optimal selama kurang lebih delapan hingga sembilan tahun karena minimnya pasokan air. Namun, setelah pembangunan sabo dam dan jaringan irigasi mulai berfungsi, kondisi lahan kini kembali memungkinkan untuk diolah.
> “Alhamdulillah sekarang air sudah lancar. Lahan ini sebelumnya hampir delapan sampai sembilan tahun tidak termanfaatkan. Setelah sabo dam diresmikan dan jaringan irigasi berjalan, baru sekitar dua bulan terakhir air mulai mengalir ke kawasan persawahan,” ujar Selamad, Jumat (26/6/2026).
Ia menjelaskan, rencana pembukaan lahan tersebut telah melalui diskusi bersama berbagai pihak, mulai dari lembaga adat, pemerintah desa, hingga Dinas Pertanian Kabupaten Sigi. Semula luas lahan yang diusulkan sekitar 100 hektar, namun hasil survei lapangan menunjukkan potensi lahan yang siap digarap mencapai sekitar 120 hektar.
> “Rencana kami pada bulan Oktober sudah mulai bergerak. Setelah dilakukan survei, ternyata luas lahan yang siap ditanami mencapai sekitar 120 hektare dan akan ditanami padi,” jelasnya.
Untuk mendukung program tersebut, BPP Dolo Selatan juga telah berkoordinasi terkait penyediaan benih bagi petani. Selain itu, dibutuhkan sedikitnya 10 unit traktor agar proses pengolahan lahan dapat dilakukan tepat waktu sehingga target tanam Oktober–November 2026 dapat tercapai.
> “Benih sudah kami komunikasikan. Sekarang yang kami butuhkan minimal 10 unit traktor agar persiapan lahan berjalan maksimal,” katanya.
Di sisi lain, Selamad mengungkapkan masih terdapat sekitar 170 hektare lahan di Desa Bangga yang hingga kini belum dapat diolah. Lahan tersebut merupakan daerah yang mengalami kerusakan cukup parah akibat bencana alam dan banjir bandang tahun 2018, sehingga tertimbun material pasir dalam ketebalan yang cukup tinggi.
Menurutnya, lahan tersebut telah diserahkan sejak tahun lalu kepada Kementerian Pertanian untuk mendapatkan program rehabilitasi lahan. Namun hingga kini, kepastian realisasi anggaran masih dalam tahap penantian.
> “Lahan yang berat untuk diolah sudah kami usulkan ke Kementerian Pertanian sejak tahun lalu agar mendapat rehabilitasi. Kami masih menunggu kepastian apakah anggarannya dapat direalisasikan tahun ini,” ungkapnya.
Apabila program rehabilitasi tersebut dapat terealisasi, luas lahan produktif pertanian di Desa Bangga diperkirakan akan meningkat secara signifikan. Hal itu diharapkan mampu memperkuat ketahanan pangan daerah, meningkatkan produksi padi, serta mendorong peningkatan kesejahteraan petani di Kecamatan Dolo Selatan.
Dengan mulai pulihnya jaringan irigasi dan adanya dukungan berbagai pihak, BPP Dolo Selatan optimistis program optimalisasi lahan tidur ini akan menjadi momentum kebangkitan sektor pertanian di Desa Bangga setelah bertahun-tahun terdampak bencana.
Penulis : Anjasman
Editor : Redaksi suara Nusantara palu com
Sumber Berita: Peliputan














